Bicara Tentang PMII


Bukan hal yang sepele menyebut diri seorang kader, meski banyak yang akan bersenang hati menganggapnya sebagai identitas yang prestisius, namun dengan menelisik lebih dalam berbagai definisi-definisi yang ada, maka mencoba memaknainya dengan pendekatan yang lebih subtansial bukanlah hal yang lancang, karena menurut saya kata tersebut bukan hanya untuk gelaran identitas seseorang sebagai bagian dari sebuah lembaga secara administratif-struktural, tetapi lebih kepada gelaran identitas untuk mereka yang senantiasa berkontribusi aktif membangun, mengembangkan, dan memajukan sebuah organisasi dengan kesadaran pengabdian yang tinggi, maka kader lebih kepada gelaran identitas untuk kualitas bukan sekedar  formalitas kelembagaan, maka menyebut diri sebagai seorang kader dari sebuah organisasi memiliki beban moril dan tanggung jawab intelektual dalam aksi yang nyata, berdasarkan diskursus tersebut maka saya tak tahu pasti apakah saya termasuk kader PMII dalam makna yang subtantif atau hanya dalam kaedah administratif.

Kurang lebih
empat tahun saya mengemban identitas sebagai kader administratif salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia ini (PMII), alasan awal ketika memilih PMII memang dilandasi oleh adanya kesamaan ideologi yaitu Ahlu Sunnah wal Jamaah yang menjadi pondasi bangunan organisasi ini, sehingga ketika saya beranjak menjadi seorang mahasiswa tak perlu berpusing-pusing untuk menentukan organisasi apa yang akan menjadi wadah mengembangkan kualitas saya, mengingat masih mengakarnya dokmatisasi pesantren yang juga menganut faham Ahlu Sunnah wal Jamaah yang kemudian membentuk mentalitas dan nalar muda sebagai tempat saya menyemai potensi diri, maka sebelum menjadi anggota pun kedekatan kultural dan spiritual telah menjadi magnet tersendiri yang akhirnya menyatukan saya sebagai seorang individu dengan PMII sebagai sebuah organisasi besar. Namun sejujurnya saya ikut organisasi terbesar di indonesia ini karena ajakan seorang sahabat dekat saya yang mana sekarang beliau sudah dipanggil oleh Allah SWT. terlebih dahulu. Saya tidak akan pernah melupakan sahabatku tersebut, semoga Allah SWT senantiasa mengawal amal ibadah beliau semasa hidupnya.

Memang dalam banyak kasus mereka yang bergabung di PMII awalnya karena faktor biologis dan dogmatis, ada karena dorongan orang tua atau anggota keluarga yang juga kader PMII atau seorang warga nahdliyyin (warga NU), ada karena keterikatan ideologis dengan almamater tempat ia pernah menimba ilmu yang berpaham Aswajah atau merupakan lembaga pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama, ada juga karena faktor kultural, misalnya dalam hal cara pandang dan praktek keagamaan (Tahlilan, barazanji, yasinan dsb) yang merupakan tradisi keagamaan yang selama ini dilestarikan oleh PMII, sehingga mereka merasa tidak asing dengan PMII, bahkan ada pula yang tidak memiliki kedekatan secara biologis, dogmatis, maupun kultural dengan PMII tetapi memiliki spirit perjuangan yang merupakan ruh ber-PMII, sehingga memutuskan untuk menjadikan PMII sebagai wadah yang akan menentukan keberhidupan intelektualitas dan spiritualitasnya.  Uniknya ada mahasiswa yang bergabung di PMII hanya karena mengikuti ajakan teman untuk menghadiri kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA), ada yang karena ingin membahagiakan dan tak ingin menyakiti hati senior karena menolak ajakannya, hingga yang hanya terpaksa ikut karena ancaman dan tendensi seniornya pula. Berbagai hal dan faktor pendorong tersebut hanya merupakan media dalam strategi dan tradisi kaderisasi yang selama ini dibangun, walaupun kualitas spirit bergabung di PMII akan mempengaruhi proses indoktrinasi dan ideologisasi, namun yang paling menentukan kualitas dan eksistensi seorang kader adalah proses ber-PMII yang akan menjadi corong seleksi dimana akan menentukan siapa yang telah siap dan memang belum siap untuk terlibat dalam proses pendewasaan nalar dan mental serta siapa yang akan menjadi pejuang dan siapa yang menjadi pecundang, sehingga tak dapat dipungkiri tidak semua yang pernah mengucap bai’at (sumpah) untuk mengabdikan diri kepada PMII tetap dalam konsistensinya untuk terlibat aktif dalam setiap agenda gerakan, ada yang sibuk dengan dunia akademik di bangku perkuliahan, ada yang terlena dengan dunia romantisme sebagai kaum muda, dan ada pula yang larut dalam candu hedonisme metropolitan, semua itu terjadi bukan semata-mata karena adanya human error, tetapi karena adanya pola yang perlu dibenahi dalam proses kaderisasi dan membuat setiap agenda organisasi memiliki daya tarik, sehingga mereka tak lagi merasa sebagai orang-orang yang terasing dari komunitas, tetapi sebagai bagian dari lembaga yang juga memiliki peran strategis, maka dengan kesadaran diri mereka akan senantiasa aktif dalam berbagai agenda dan kerja organisasi.

Menyoal Struktur dan Kultur

Tanggal 17 april 2013 besok PMII telah menginjak usia 53 tahun, dalam usia yang tidak lagi muda, PMII tentunya banyak jejak perjalanan sejarah dan juga terlibat aktif dalam pergulatan sosial dan keagamaan, meretas gagasan kebangsaan serta berperan nyata dalam berbagai agenda gerakan perlawanan dan kemanusiaan, namun berbagai problem internal bukan hal yang luput dari organisasi yang berbendera biru-kuning ini, disiorientasi struktur maupun kultur yang terjadi belakangan ini menjadi salah satu ancaman terbesar yang akan meronrong eksistensi organsasi, polemik yang terjadi dalam struktur organisasi dapat dilihat dari kurangnya perhatian pengurus besar (PB) terhadap nasib para pengurus yang bergerak di akar rumput (Grass root) mulai dari Rayon, Komisariat hingga Cabang yang merupakan ring utama kaderisasi, padahal sejatinya pengembangan sumberdaya kader harusnya mendapat perhatian lebih pada wilayah strategis tersebut karena hal itu merupakan salah satu strategi gerakan pencerdasan nalar dan pembentukan mentalitas kader, hal lain yang juga sangat memprihatinkan yaitu berkisar pada wilayah yang sangat rawan dengan aroma politik praktis.

Persoalan kultural yang melanda PMII juga menjadi salah satu faktor terjadinya kemandegan dalam gerak roda organisasi, suasana keilmuan dan nuansa religiuitas mulai memudar seiring terjadinya pergeseran orientasi dalam pola kaderisasi, tradisi intelektual seperti membaca, kajian dan diskusi merupakan hal yang langka saat ini, kondisi yang sama juga melanda tradisi keagamaan yang sepi umat, praktek keagamaan islam tradisional seperti yasinan dan barazanji yang selama ini menjadi identitas beragama ala PMII, kini hanya menjadi tema perdebatan dalam forum-forum diskusi keislaman, sehingga zikir, pikir dan amal shaleh hanya sebentuk idealitas dengan manifestasi kosong, padahal kita semua menyepakati dan mengiyakan bahwa PMII adalah organisasi kader yang bergerak dalam pengembangan intelektualitas, spiritualitas dan harakah (gerak), bukan organisasi massa yang bergerak pada wilayah politik praktis yang hanya mementingkan kuantitas dan bukan kualitas, sehingga yang menjadi orientasi gerak adalah bagaimana mengorganisasi sebanyak mungkin orang untuk kepentingan menduduki posisi dan jabatan politik dan merebut kuasa. Ketika kondisi kultural ini tidak segera direformasi maka yakin dan percaya kita (anggota & kader PMII) sedang bergerak atau tepatnya digerakkan untuk mengikuti arus perebutan kuasa yang digalakkan oleh para elit politik dengan hegemoni materinya.

Hal ini mungkin tidak merepresentasi kondisi semua kader PMII di setiap level dan di semua cabang di Indonesia karena memang apa yang tertulis di sini merupakan apa yang teralami secara pribadi dan tentunya sangat subyektif, mungkin ini hanyalah spekulasi tidak ilmiah.

Manifestasi Nalar dan Mental dalam Gerak

Restrukturisasi merupakan tahapan awal perbaikan sistem organisasi yang sangat vital, karena struktur merupakan kemudi yang akan menentukan kemana organisasi ini akan diarahkan, kemudian reinternalisasi kultur ber-PMII, sehingga proses pengkaderan mulai dari tingkatan paling dasar (MAPABA) bukan sekedar media perekrutan massa untuk tujuan politik, hal ini bukan berarti PMII harus bersikap apolitik tetapi bagaimana orientasi pengkaderan adalah untuk agenda penyadaran bahwa menjadi mahasiswa berarti siap mengemban tanggung jawab intelektual untuk kemaslahatan, sedangkan berpolitik adalah salah satu sarana aktualisasi diri dengan tetap menjunjung tinggi nila-nilai pergerakan yang selama ini diperjuangkan. Maka setelah MAPABA akan di follow up dengan kesibukan membaca, kajian dan diskusi seputar tema-tema strategis untuk membentuk kerangka berfikir dan epistemologi, memperluas wawasan dan cakrawala pengetahuan, membangun mentalitas dan kepekaan sosial, serta mengembangkan skill kreatif dan inovatif, ketika proses-proses ini dapat terus dikawal, semua itu akan menjadi bukti nyata sebuah proses kaderisasi yang akan melahirkan eksponen-eksponen gerakan yang cerdas dan bermental pejuang.

Setelah beberapa lama berproses dalam ritus membaca buku serta aktif dalam kajian dan diskusi ala PMII dengan konsumsi seputar tema-tema keagamaan, sejarah, filsafat, sosial, budaya, ekonomi dan politik perlahan akan nampak lompatan kecerdasan yang nyata, Semua itu merupakan stimulus yang sangat mempengaruhi  kemajuan intelektualitas kader, karena mengetahui dan memahami masalah akan membimbing kita dalam menentukan langkah dan arah gerakan.  Salah satu prinsip berorganisasi yang harus dipegang teguh oleh semua kader adalah  bahwa ber-PMII bukan hanya sekedar menjadi bagian dari PMII secara kultural maupun struktural tetapi bagaimana memberi segala daya untuk mengembangkan dan memajukan organisasi, salah satunya dengan menyeimbangkan kualitas nalar dan kolektifitas gerak dengan setia mengawal setiap isu-isu strategis, serta peka terhadap berbagai realitas sosial yang terjadi, sehingga organisasi ini akan senantiasa kaya dengan karya dan kuat secara struktur maupun kultur.

2 komentar: